Lebih dari dua bulan saya tidak melihat sang pujaan hati dan tidak pula mengetahui kabarnya. Rindu yang mengharu biru menghinggapi dahan-dahan rapuh hati kecil ini. * bahasa saya cukup menggelikan juga rupanya*. Meski sudah lama, namun greget di hati masih saja berdenyut. Seperti lagu dibawah ini:
Sekarang atau lima puluh tahun lagi, ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku, masih sama saat pertama kali bertemu
By Yuni Sarah
Banyak gejolak untuk hanya sekadar menanyakan perihal kabar dan keadaan, tetapi sering kali hal itu pupus, karena takut. Takut tidak direspon. Takut dia marah, meski tidak tahu apa sebabnya. Akhirnya saya mengirim pesan singkat bertanya apakah ia lulus seleksi olimpiade internasional kimia. Alhamdulillah dia membalas “engga”, simple tapi berarti. Dia merespon.*disayangkan juga dia tidak lulus, padahal siangmalam saya doakan*. Pada keadaan rindu yang lain saya mengetik via chat facebook, sempat takut juga untuk meng-enter tulisan yang sudah saya ketik, dan akhirnya teman saya dengan sembrononya memencet tombol enter karena dia tidak tahan melihat saya yang tidak bisa diam hanya karena ragu memencet tombol tersebut. Payah payah...
Lama dia tidak membalas, pikirku melayang, apa dia lagi solat mungkin atau lagi main game. Hingga akhirnya dibalas. Dia bilang “baik-baik aja”. Simple tapi berarti. Amat sangat berarti, berhasil membuat saya deg-degan dan memberi semangat luar biasa. Entah gerakan aneh apa yang saya lakukan saat melihat dia membalasnya, yang pasti teman saya yang melihat saya hanya bisa termangu bingung seperti ayam yang sedang konsentrasi menelurkan anaknya.
Senang teramat senang rasanya, AI telah mengobati rasa rindu yang melanda. Selalu saya berkata seperti ini dalam doa saya “ya Allah, katakan kepada AI saya akan berjuang untuk memantaskan diri saya dengannya dan saya akan tetap mencintainya sampai hari akhir nanti. Ya Allah, Jaga kami berdua dalam iman dan Islam-Mu. AMIN”.
Ohya, sempat juga saya membaca resume kronologi saya dan AI yang sebenarnya sudah sering saya baca dan hal itu berhasil membuat saya sumringah. Ternyata kronologinya lucu juga. Teringat banyak hal, tentang AI, me and him. Resume kronologi itu kelak akan saya baca terus menerus, dan tidak akan pernah saya hapus, sampai kapan pun.
AI, see you on the next meeting :)
