Sunday, September 25, 2011

Simple Tapi Berarti


Lebih dari dua bulan saya tidak melihat sang pujaan hati dan tidak pula mengetahui kabarnya. Rindu yang mengharu biru menghinggapi dahan-dahan rapuh hati kecil ini. * bahasa saya cukup menggelikan juga rupanya*. Meski sudah lama, namun greget di hati masih saja berdenyut. Seperti lagu dibawah ini:

Sekarang atau lima puluh tahun lagi, ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku, masih sama saat pertama kali bertemu
By Yuni Sarah


Banyak gejolak untuk hanya sekadar menanyakan perihal kabar dan keadaan, tetapi sering kali hal itu pupus, karena takut. Takut tidak direspon. Takut dia marah, meski tidak tahu apa sebabnya. Akhirnya saya mengirim pesan singkat bertanya apakah ia lulus seleksi olimpiade internasional kimia. Alhamdulillah dia membalas “engga”, simple tapi berarti. Dia merespon.*disayangkan juga dia tidak lulus, padahal siangmalam saya doakan*. Pada keadaan rindu yang lain saya mengetik via chat facebook, sempat takut juga untuk meng-enter tulisan yang sudah saya ketik, dan akhirnya teman saya dengan sembrononya memencet tombol enter karena dia tidak tahan melihat saya yang tidak bisa diam hanya karena ragu memencet tombol tersebut. Payah payah...

Lama dia tidak membalas, pikirku melayang, apa dia lagi solat mungkin atau lagi main game. Hingga akhirnya dibalas. Dia bilang “baik-baik aja”. Simple tapi berarti. Amat sangat berarti, berhasil membuat saya deg-degan dan memberi semangat luar biasa. Entah gerakan aneh apa yang saya lakukan saat melihat dia membalasnya, yang pasti teman saya yang melihat saya hanya bisa termangu bingung seperti ayam yang sedang konsentrasi menelurkan anaknya.

Senang teramat senang rasanya, AI telah mengobati rasa rindu yang melanda. Selalu saya berkata seperti ini dalam doa saya “ya Allah, katakan kepada AI saya akan berjuang untuk memantaskan diri saya dengannya dan saya akan tetap mencintainya sampai hari akhir nanti. Ya Allah, Jaga kami berdua dalam iman dan Islam-Mu. AMIN”.

Ohya, sempat juga saya membaca resume kronologi saya dan AI yang sebenarnya sudah sering saya baca dan hal itu berhasil membuat saya sumringah. Ternyata kronologinya lucu juga. Teringat banyak hal, tentang AI, me and him. Resume kronologi itu kelak akan saya baca terus menerus, dan tidak akan pernah saya hapus, sampai kapan pun.

AI, see you on the next meeting :)

Say yes for Farmasi


Banyak orang yang menginginkan sekolah di universitas ternama dan bagus pastinya. Apalagi kalau termasuk universitas 10 besar di Indonesia seperti UI, ITB, UGM, UNPAD, UNDIP, UNAND, dll, siapa yang tidak ingin. Begitu pun saya, 4 dari 6 universitas yang saya sebut telah saya ikuti ujian masuknya. Namun apa boleh dibuat, ibarat membalikan telapak kaki, begitu sulit sehingga saya tidak lulus di FK nya, bahkan farmasi UI pun tidak lulus.


Patah hati rasanya, dari sekian banyak ujian seleksi masuk yang diterima hanyalah:
• Ilmu pemerintahan UNPAD
• Ilmu keperawatan UNBRAW
• Manajemen UNDIP
• Farmasi UIN
• FK UPN
Sempat saya menjadi mahasiswa UNPAD dan kehilangan uang sebesar 6 juta rupiah. Bukan saya yang belagak sok kaya dengan menghambur-hamburkan uang, tetapi semata-mata ayah saya ingin saya manjadi bu camat. Jujur saya sama sekali tidak ingin, akhirnya saya memilih UIN Farmasi yang pengumumannya lambat sekali dibandingkan dengan yang lain, biarlah bukan universitas 10 besar asal saya ingin. Bukan masalah tempatnya, tapi bagaimana saya belajar di bidang tersebut. Ibarat teratai yang tetap terlihat cantik di tengah air lumpur kotor. Sebenarnya, cita-cita utama saya adalah menjadi seorang dokter, dan runner up nya adalah menjadi apoteker.

Alhamdulillah saya diterima dipilihan pertama (Farmasi) UIN. Lho? Kenapa bukan pilih kedokteran saja? Alasan yang cukup nyeleneh dan general. MAHAL. 20 jt per semester, masa iya nanti selama hidup di perkuliahan kedokteran hanya makan nasi putih dan garam lantaran uang semester yang mahalnya naujubillah.
Jujur, pertama saya kuliah di UIN, saya malu dengan teman-teman saya yang kuliah ditempat yang lebih bagus, apalagi kalau dia kedokteran. Tapi seiring berjalan waktu, saya cinta Farmasi, sangat. Guru besar UIN bilang, suatu saat nanti dokter tidak boleh lagi menuliskan resep untuk pasien, hanya apotekerlah dan apoteker akan diajari cara memeriksa pasien, layaknya dokter. Apalagi ada juga guru besar lain yang mengatakan kalau laboratorium UIN adalah laboratorium terlengkap nomor 2 tingkat Indonesia. Ditambah dengan mata kuliah MPI (Metode Pengobatan Islam) yang belum tentu dipelajari di universitas lain.
Hal-hal tersebut membuat saya makin mencintai Farmasi UIN.


Now, it depends on me. Saya harus bisa menjadi the best of pharmacist. Dengan pengetahuan luas dan wawasan islami. Amin. Dengan seikat tekad kuat dan kempuan sebesar biji jagung, saya akan berjuang. Untuk mengakhiri, coba kita lihat lirik berikut:

(dengan nada lagu gengsi gede-gedean)
Tekadku sudah bulat, sekolah di farmasi
Senang hati, tiada ragu lagi
Kami disini ingin ukir prestasi, untuk menjadi the best of pharmacist.

Terima kasih.