Kita merasa sangat menyatu, seperti air. Kita mengalir bersama. Kita membawa kesejukan untuk sekitar. Kita sulit dipisahkan sebagaimana hakikatnya H2O yang sulit untuk dipecah menjadi H2 dan 02.
Entah apa yang menjadikan kami begitu cocok. 517 tak ayal hanyalah sebuah kamar di asrama putri Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kami lah yang menjadikannya berarti, kami lah Indah Nunik Nugraini, Elsa Elfrida, dan Fitri Rahmadani.
Semua kegiatan hampir kita lakukan bersama, mulai dari tidur tengah malam, bangun siang, bangun pagi buta, ke kampus jam 7 pagi, hang out, bermain truth or dare, makan nasi uduk bersama, belajar bersama, cuci baju berjamaah, bolos kegiatan asrama, di-bully dan mem-bully, lomba kentut, ngecengin Pak Ramadi, bergalau masal, bersabar karena punya tetangga tidak ada yang benar, menaklukan hujan angin, berjuang hadapi mata kuliah Botfar, kimia analisis, kimia organik, dan banyak lagi sampai kulit bumi ini tidak cukup untuk menjadi alas menuliskan kisahnya.
Jalan tak selamanya mulus, pasti berliku. 517 diuji seberapa kuat ikatan hidrogen diantara mereka, ujian yang berat dalam sejarah persahabatan, yakni egoisme. Perselisihan terjadi, nampaknya suhu di kamar 517 berubah menjadi -58oC karena perang dingin antara salah dua penghuninya. Sedang satu lagi penghuninya menggigil hebat menghadapi yang terjadi. Ia tak bisa memilih, dan tak akan bisa memilih, karena pada molekul air terdapat 2 atom O dan satu atom H.
Atom hidrogen tidak mungkin melepaskan kedua atom oksigennya, karena ia akan menjadi tak stabil saat melepaskan salah satunya. Berbagai upaya ditempuh untuk menjaganya. Tangis yang meraja, batin yang terkuras, otak yang terbalik, semua dilakukan. Namun perselisihan sudah mengakar dan tetap tidak terselesaikan. Hidrogen selalu berdoa supaya kedua teman oksigennya kembali merujuk. Seiring berjalannya waktu, perselisihan mereda walau masih tersisa. Sayang sekali saat kita harus berpisah, kita tidak merayakannya. Untuk mengenang tawa dan usaha yang dirasakan bersama. Hidrogen sangat mencintai kedua oksigennya layaknya keluarga. Selamat menempuh hidup baru wahai oksigenku, aku pasti merindukan kalian dan ikatan hidrogen diantara kita yang biasa kita sebut dengan persahabatan.
Monday, September 17, 2012
Kapal Menunggu Kapten
Aku ibarat kapal tanpa kapten, aku hanya mengandalkan layar untuk melaju dan angin untuk mengarahkanku. Aku sudah cukup lelah untuk membuat diriku seimbang agar tidak terbalik dan tenggelam. Namun aku hanyalah kapal pada umumnya, aku juga terombang-ambing di tengah samudera yang luas. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Pernah kapal kecil ini mengejar seorang kapten, namun sang kapten hanya diam kemudian pergi tanpa kabar. “Kapten, aku hanya kapal, saat engkau menjauh aku tidak bisa mengejarmu sampai ke daratan”, ujarku dalam hati. Sudah aku bunyikan peluit untuk memberi kode pada kapten untuk kembali, namun kapten tak kunjung datang. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Kapal ini bisa tua, rapuh, dan berjamur karena menunggu kapten. Aku selalu setia menunggu dengan bayangan akan petualangan hebat yang akan aku jalani bersama kapten. Kapal ini tak mau pergi mencari kapten lain, karena masih menunggumu, kapten. Hingga bagian dek kapal mulai dimakan rayap dan keropos perlahan. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Kapal ini masih menunggu seseorang untuk membuatnya berlayar kembali, menerjang badai kehidupan bersama. Saat orang itu datang, aku akan pergi kapten, pergi ke laut lepas. Aku akan sangat senang bertemu dengan orang itu, ialah yang akan membawaku memakan waktu dan mengarungi samudera. Kapal ini akan kembali berguna sebagimana mestinya. Sejak itu kapten haram hukumnya untuk kembali ke kapal. Jika kembali maka bukan kapten sebutannya, tetapi perompak. Jangan sampai menyesal wahai kapten. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Pernah kapal kecil ini mengejar seorang kapten, namun sang kapten hanya diam kemudian pergi tanpa kabar. “Kapten, aku hanya kapal, saat engkau menjauh aku tidak bisa mengejarmu sampai ke daratan”, ujarku dalam hati. Sudah aku bunyikan peluit untuk memberi kode pada kapten untuk kembali, namun kapten tak kunjung datang. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Kapal ini bisa tua, rapuh, dan berjamur karena menunggu kapten. Aku selalu setia menunggu dengan bayangan akan petualangan hebat yang akan aku jalani bersama kapten. Kapal ini tak mau pergi mencari kapten lain, karena masih menunggumu, kapten. Hingga bagian dek kapal mulai dimakan rayap dan keropos perlahan. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Kapal ini masih menunggu seseorang untuk membuatnya berlayar kembali, menerjang badai kehidupan bersama. Saat orang itu datang, aku akan pergi kapten, pergi ke laut lepas. Aku akan sangat senang bertemu dengan orang itu, ialah yang akan membawaku memakan waktu dan mengarungi samudera. Kapal ini akan kembali berguna sebagimana mestinya. Sejak itu kapten haram hukumnya untuk kembali ke kapal. Jika kembali maka bukan kapten sebutannya, tetapi perompak. Jangan sampai menyesal wahai kapten. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.
Subscribe to:
Posts (Atom)