Wednesday, April 3, 2013

Kebenaran Itu Kepastian

Mungkin isu korupsi yang merajai tanah air bukanlah hal yang tabuh dan sudah menjadi hal yang lumrah untuk diperbincangkan oleh setiap orang dari berbagai latar belakang. Semua orang baik muda ataupun tua, kaya ataupun miskin, berpendidikan ataupun tidak, rasanya semua tahu kalau korupsi merupakan perbuatan yang buruk yang dapat merugikan seseorang atau sebagian orang. Semua orang pasti tidak akan ragu mengatakan kalau korupsi harus dihentikan. Namun apatah semua orang mau dan mampu untuk menghentikannya dengan pasti?

Contoh lain mengenai kesalahan yang amat sangat membutuhkan pembenaran sesegera mungkin adalah perilaku yang sebenarnya sering kita lakukan dan kita temui di lingkungan sekitar kita, seperti mencontek, membuang sampah tidak pada tempatnya, meminjam buku tanpa ijin dan tidak dikembalikan pula, bahkan dibaca pun tidak (lalu untuk apa buku itu ?!?). Semua contoh yang saya sebutkan di atas pastilah merupakan perbuatan yang salah yang semestinya tidak dilakukan. Namun mengapa masih banyak terjadi dan kian mempunyai kecenderungan bertambah beriringan dengan waktu yang menggerus jaman, mengapa?.

Kalaulah kita sudah tahu itu adalah suatu kesalahan mengapa kita tidak membenarkannya? Bukankah Rasulullah SAW selalu mengingatkan kita untuk selalu berada dijalan yang benar? Kebenaran itu kepastian. Yang artinya tidak akan ada kebenaran tanpa adanya kepastian. Bayangkan bagaimana kita sewaktu kecil kita yakin kalau kita ini adalah seorang laki-laki atau perempuan. Orang tua kita dengan pasti melakukan hal-hal yang sebenarnya memastikan kita pada kodrat yang sebenar-benarnya. Bayangkan bagaimana guru kita memastikan kita bahwa 1 + 1 = 2, lihatlah bahwa ia sedang meyakinkan kita akan suatu kebenaran yang hakiki. Jika sang guru mengetahui kita menjawab soal di atas dengan jawaban 5, dengan pasti ia akan mengatakan bahwa itu salah dan tanpa ragu memberitahu kebenarannya.

Cobalah kita yakinkan diri kita untuk selalu melangkah dengan yakin dan pasti untuk kebenaran-kebenaran di sekitar kita. Alangkah pedihnya hidup di tengah kesalahan-kesalahan yang selalu berteriak meminta untuk diasumsikan sebagai suatu kebenaran. Sementara kebenaran berada dibalik pintu dan terkunci, menunggu suatu saat ada orang-orang yang berusaha membuka pintu bahkan mendobrak untuk membebaskan kebenaran.

Saya tahu dengan pasti saya dan kalian sama-sama mempunyai hati nurani yang selalu mengatakan kebenaran. Cobalah bersikap tenang supaya kita mampu mendengar setiap kata yang terucap dari hati kecil kita. Cobalah merespon apa yang dikatakanyya seperti kita merespon perintah dari atasan kita. Sungguh kasihan ia yang selama ini berada dalam diri anda namun anda tidak pedulikan keberadaannya. Janganlah pernah ragu ataupun malu untuk menyelamatkan kebenaran. Karena disaat itulah kita merasakan betapa mulianya diri kita :)