Monday, September 17, 2012

Kapal Menunggu Kapten

Aku ibarat kapal tanpa kapten, aku hanya mengandalkan layar untuk melaju dan angin untuk mengarahkanku. Aku sudah cukup lelah untuk membuat diriku seimbang agar tidak terbalik dan tenggelam. Namun aku hanyalah kapal pada umumnya, aku juga terombang-ambing di tengah samudera yang luas. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.

Pernah kapal kecil ini mengejar seorang kapten, namun sang kapten hanya diam kemudian pergi tanpa kabar. “Kapten, aku hanya kapal, saat engkau menjauh aku tidak bisa mengejarmu sampai ke daratan”, ujarku dalam hati. Sudah aku bunyikan peluit untuk memberi kode pada kapten untuk kembali, namun kapten tak kunjung datang. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.

Kapal ini bisa tua, rapuh, dan berjamur karena menunggu kapten. Aku selalu setia menunggu dengan bayangan akan petualangan hebat yang akan aku jalani bersama kapten. Kapal ini tak mau pergi mencari kapten lain, karena masih menunggumu, kapten. Hingga bagian dek kapal mulai dimakan rayap dan keropos perlahan. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.

Kapal ini masih menunggu seseorang untuk membuatnya berlayar kembali, menerjang badai kehidupan bersama. Saat orang itu datang, aku akan pergi kapten, pergi ke laut lepas. Aku akan sangat senang bertemu dengan orang itu, ialah yang akan membawaku memakan waktu dan mengarungi samudera. Kapal ini akan kembali berguna sebagimana mestinya. Sejak itu kapten haram hukumnya untuk kembali ke kapal. Jika kembali maka bukan kapten sebutannya, tetapi perompak. Jangan sampai menyesal wahai kapten. Aku menunggumu kapten, aku menunggu, tapi entah sampai kapan.

No comments:

Post a Comment